01.15
kugerakkan kaki membelah gelap
tanpa makna
berjalan dalam duniaku
tanpa rasa
kuisi paru paru dengan sekumpulan racun
bercampur dengan pekatnya asap bajaj
sekumpulan metromini,
jejeran kopaja
ya, teman sejati yang selalu menemaniku dengan setia
menghatarku menuju kematian
apakah aku masih hidup?
ku tengakkan kepalaku keatas sana
ah.. betapa benci aku ketika bulan memancarkan cahayanya
betapa aku sangat ingin untuk lelah
lelah selelah-lelahnya
yang akan menghatarku menuju nirwana
yang tak pernah mampu menenangkan pikiranku
lalu terbangun dalam lelah
kembali dalam lelah
kukejar sebuah kopaja
yang dengan tenangnya berhenti ditengah pekikan klakson mobil dibelakangnya
memandangku penuh cinta
untuk menggaulinya
kuhentak jasadku dibangku panas
ah jakarta
kenapa panasmu tak mampu hangatkan hati ini?
sementara sudut mataku membeliak memandangi sepasang pencinta
disudut sana sang ibu berusaha tenangkan anaknya
sisi lain seorang bapak telelap dengan nyenyak
ah.. indahnya duniamu sobat...
pikirkupun terhentak tatkala putaran roda terhenti
dengan malas kugerakkan kakiku
menuju negeri entah berantah
sebatang rokok kembali dengan sabar
mendengarkan urutan kata tak bermakna dalam fikirku
mencoba menipuku membawa beban kelangit sana
sambil tertawa menumpuk sampah disela darah
persetan!
dia tetap teman setiaku
toh tak terlalu jelas bedanya kini
aku hanya menyeringai
menertawakan aku
teman...
andai saja wujudmu bisa kusentuh
andai saja persahabatanmu bisa kupeluk
andai saja kesetiaanmu mampu menenangkan resah hati
andai saja kehangatanmu mampu mencairkan gulana
andai saja apimu mampu membangkit gairah
tiba tiba saja mataku mengabur
hidungku tak mampu mencium
lidahku tak tau lagi tentang rasa
telingaku tak lagi yakin akan apa yang kudengar
arhghggggggg...
indera ini hanya menipuku dengan fana
masihkah aku hidup dalam kondisi seperti ini?
01.15.
tanganku mengalir dalam kumpulan tombol2
meneruskan setiap detak pikir
mencoba membuang sampah-sampah
yang tak habis seiring untaian kata
aku ingin tidur...
dengan tenang..
bisakah?
tanpa makna
berjalan dalam duniaku
tanpa rasa
kuisi paru paru dengan sekumpulan racun
bercampur dengan pekatnya asap bajaj
sekumpulan metromini,
jejeran kopaja
ya, teman sejati yang selalu menemaniku dengan setia
menghatarku menuju kematian
apakah aku masih hidup?
ku tengakkan kepalaku keatas sana
ah.. betapa benci aku ketika bulan memancarkan cahayanya
betapa aku sangat ingin untuk lelah
lelah selelah-lelahnya
yang akan menghatarku menuju nirwana
yang tak pernah mampu menenangkan pikiranku
lalu terbangun dalam lelah
kembali dalam lelah
kukejar sebuah kopaja
yang dengan tenangnya berhenti ditengah pekikan klakson mobil dibelakangnya
memandangku penuh cinta
untuk menggaulinya
kuhentak jasadku dibangku panas
ah jakarta
kenapa panasmu tak mampu hangatkan hati ini?
sementara sudut mataku membeliak memandangi sepasang pencinta
disudut sana sang ibu berusaha tenangkan anaknya
sisi lain seorang bapak telelap dengan nyenyak
ah.. indahnya duniamu sobat...
pikirkupun terhentak tatkala putaran roda terhenti
dengan malas kugerakkan kakiku
menuju negeri entah berantah
sebatang rokok kembali dengan sabar
mendengarkan urutan kata tak bermakna dalam fikirku
mencoba menipuku membawa beban kelangit sana
sambil tertawa menumpuk sampah disela darah
persetan!
dia tetap teman setiaku
toh tak terlalu jelas bedanya kini
aku hanya menyeringai
menertawakan aku
teman...
andai saja wujudmu bisa kusentuh
andai saja persahabatanmu bisa kupeluk
andai saja kesetiaanmu mampu menenangkan resah hati
andai saja kehangatanmu mampu mencairkan gulana
andai saja apimu mampu membangkit gairah
tiba tiba saja mataku mengabur
hidungku tak mampu mencium
lidahku tak tau lagi tentang rasa
telingaku tak lagi yakin akan apa yang kudengar
arhghggggggg...
indera ini hanya menipuku dengan fana
masihkah aku hidup dalam kondisi seperti ini?
01.15.
tanganku mengalir dalam kumpulan tombol2
meneruskan setiap detak pikir
mencoba membuang sampah-sampah
yang tak habis seiring untaian kata
aku ingin tidur...
dengan tenang..
bisakah?
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home