Hening
hening...
dalam ketukan jari jari malam
tengadah beringas mencoba membelah helai helai langit
menatap dingin derau angin yang mengiris lubuk hati
sejenak
perlahan tanpa pesanku pekikkan serapah dalam bisu
seiring tarikan nafas yang menderu
mencoba melawan putaran badai gurun
Dia hanya menyeringai
kuputar pandangan kesekelilingku
sunyi...
sekelumit mata alam melirikku sedih
menghela nafas panjang merekapun terdiam
tak ada batas yang terlihat
telingaku buta mencium kobarannya
dan akupun terpejam
mecoba meredam api diri
menyusun engahan udara dalam tubuhku
kubuka mataku
dengan hati
kutajamkan telingaku
dengan kalbu
menanti sabda alam
menunggu kelebat sukma semesta
yang kan menuntun langkah matiku
masih
masih terasa sepi
seketika pandanganku bias
kepalaku penuh dengan ceracauan usang
jari jariku mengepal
seakan tak percaya
dalam gemetar kembali tengadah
memandang bengis pintu langit
menembus sumsum cakrawala
kutumpahkan serapah dalam amarah
seraya bulir bulir tangis tak sadar mengalir
belulangku melunglai
tamparan pasirpun tak lagi terasa dalam jasad
tanpa daya akupun terdiam
mencoba mendengar sunyi
dalam hening...
dan akupun pasrah
mencoba menyatu dengan alam
mengenal butir butir pasir yang menyapaku
merasakan belaian angin yang lembut menciumku
menikmati hangat rembulan yang seketika datang
menuai harap yang mencoba tersenyum
cairkan samudra beku dalam gumpalan hati
dan akupun pasrah
dalam hening.....
dalam ketukan jari jari malam
tengadah beringas mencoba membelah helai helai langit
menatap dingin derau angin yang mengiris lubuk hati
sejenak
perlahan tanpa pesanku pekikkan serapah dalam bisu
seiring tarikan nafas yang menderu
mencoba melawan putaran badai gurun
Dia hanya menyeringai
kuputar pandangan kesekelilingku
sunyi...
sekelumit mata alam melirikku sedih
menghela nafas panjang merekapun terdiam
tak ada batas yang terlihat
telingaku buta mencium kobarannya
dan akupun terpejam
mecoba meredam api diri
menyusun engahan udara dalam tubuhku
kubuka mataku
dengan hati
kutajamkan telingaku
dengan kalbu
menanti sabda alam
menunggu kelebat sukma semesta
yang kan menuntun langkah matiku
masih
masih terasa sepi
seketika pandanganku bias
kepalaku penuh dengan ceracauan usang
jari jariku mengepal
seakan tak percaya
dalam gemetar kembali tengadah
memandang bengis pintu langit
menembus sumsum cakrawala
kutumpahkan serapah dalam amarah
seraya bulir bulir tangis tak sadar mengalir
belulangku melunglai
tamparan pasirpun tak lagi terasa dalam jasad
tanpa daya akupun terdiam
mencoba mendengar sunyi
dalam hening...
dan akupun pasrah
mencoba menyatu dengan alam
mengenal butir butir pasir yang menyapaku
merasakan belaian angin yang lembut menciumku
menikmati hangat rembulan yang seketika datang
menuai harap yang mencoba tersenyum
cairkan samudra beku dalam gumpalan hati
dan akupun pasrah
dalam hening.....
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home