Senin, September 06, 2004

Kidung Semesta

hening...
dalam ketukan jari jari malam
tengadah beringas
mencoba membelah helai helai langit
menatap dingin derau angin yang mengiris lubuk hati

sejenak
perlahan tanpa pesan
ku pekikkan serapah dalam bisu
seiring tarikan nafas yang menderu
mencoba melawan putaran badai gurun

Dia hanya menyeringai

kuputar pandangan kesekelilingku
sunyi...
sekelumit mata alam melirikku sedih
menghela nafas panjang
merekapun terdiam

tak ada batas yang terlihat
telingaku buta mencium kobarannya
dan akupun terpejam
mencoba meredam api diri
menyusun engahan udara dalam tubuhku

kubuka mataku
dengan hatiku
tajamkan telingaku
dengan kalbu
menanti sabda alam
menunggu kelebat sukma semesta
yang kan menuntun langkah matiku

masih...
masih terasa sepi
seketika pandanganku bias
kepalaku penuh dengan ceracauan usang

jari jariku mengepal
seakan tak percaya
dalam gemetar kembali tengadah
memandang bengis pintu langit
menembus sumsum cakrawala

kutumpahkan serapah dalam amarah
seraya bulir bulir tangis tak sadar mengalir
hingga urat-urat darah tak lagi mampu mengalir
Dan belenggu angkuh tercerai berai

belulangku melunglai
tamparan pasirpun tak lagi terasa dalam jasad

tanpa daya
akupun terdiam
mencoba mendengar sunyi

dalam hening...
dan akupun pasrah
mencoba menyatu dengan alam
mengenal butir butir pasir yang menyapaku
merasakan belaian angin yang lembut menciumku
menikmati hangat rembulan yang seketika datang
menuai harap yang mencoba tersenyum
cairkan samudra beku dalam gumpalan hati

dan akupun pasrah
dalam hening.....