Sabtu, Desember 17, 2005

tatkala ajal cinta menjemput...

pintu itu berderit
dan segar cahaya mentari menamparku pedas
menyentak sekujur tubuh yang tak biasa tersentuh pagi
kaburkan selubung mata yang kubuka sengit

perlahan
kelabut warna itu terurai pasti
hingga kulihat sesosok tubuh anggun

dan pagi itu menjadi terasa indah

gemulai
sosok indah itu menghampiriku
tersenyum
menebar semerbak wangi nan membelai menghayutkan
menyapaku tanpa kata berjuta makna
mengempas tubuhnya diperaduanku

kegeser kepalaku kepangkuannya
merengkuh sesuatu yang hanya kudapatkan disana
damai...
tenang...
hangat...
pelepas penat...
rindukupun usai sudah
riuh pagi hari seketika tak lagi kudengar

ya
disanalah semua itu dapat kurasa

lembut
jemari tangannya mengusir lelahku lewat usapan dihelai rambut
luluhkan kusut masai rambutku yang terangkai tak berbentuk
sungguh, sangat melenakan

kutenggelamkan wajahku disela tubuhnya
menyelami kasih dan sayangnya
hingga kedasar lubuk hatinya

ku angkat tubuhku
seraya ku rengkuh hangatnya dalam pelukan
membelai lembut rambutnya nan halus
resapi hembusan nafasnya yang mengalir hangat
aliri pori poriku dengan kasih
dan kurasakan ada cinta menyertai pipinya yang jatuh diringkih dibahuku

seketika
ku ingin bumi berhenti memutari matahari
saat itu juga

sang waktu tetaplah sang waktu
yang tak mampu ku bujuk dalam harap
takdir ku, dia, dan seluruh isi bumi tuk kembali kotori alam semesta raya
mengisi detik demi detik dengan peristiwa

kuiringi langkah kecilnya meninggalkan sudut kamarku yang sempit
ku dengarkan dering sepatu tingginya menapaki tangga kamarku
malas...
ku lepas dirinya dalam tatapan tak berkedip

saat itulah firasatku bicara
memberi pertanda yang tak mampu ku baca

ku geser pandanganku mengiringi jejak langkahnya
dipenggalan jalan, kulihat penjara hatiku memutar tubuhnya diujung sana
melambaikan lentik tangannya kepadaku
melempar senyum
senyum yang masih saja indah
dan ku yakin akan selalu indah

kuberikan senyum terbaikku
seraya kubalas lambaiannya berat
seiiring langkahnya menjauhiku
sang izrail cinta tiba menghampiriku
mencabut arwah kasih yang belum lama mengisi jasadku yang tlah lama mati
tanpa belas kasih

tak ada yang bisa kulakukan
perlahan kurasakan hatiku mengering
dingin yang pernah kurasa dulu merambat lambat dikerongkonganku
sementara sang pagi tampak gelisah
mencoba tuk membakar jiwaku tuk kembali hangat

dalam sadar
lamat lamat kulihat dirinya diujung batas pandangan mata
dan dirinya telah menghilang pasti
membawa kembali separuh hatinya yang pernah dititipkan padaku

dan ya
aku telah kehilangannya
saat itu juga...
meninggalkan jasadku
mati


*december, 16th 2005
again...