Rabu, September 15, 2004

Terima Kasih Cinta...

terima kasih kekasihku...
telah kau kenalkan aku keindahan yang tak terimagikan

telah kau kenalkan aku pada rasa sakit tanpa batas
telah kau kenalkan aku canda tawa lepas bebas
telah kau kenalkan aku derai tangis haru biru
telah kau kenalkan aku kebahagiaan hakikat
telah kau kenalkan aku pada kesedihan tak berujung
telah kau kenalkan aku kedamaian tak terlukiskan
telah kau kenalkan aku pada rasa hampa tanpa kata-kata
telah kau kenalkan aku kasih sayang yang sesungguhnya
telah kau kenalkan aku kebencian yang membusuk menyengat
telah kau kenalkan aku kehidupan penuh warna
telah kau kenalkan aku pada ruang pilu sunyi sepi
telah kau kenalkan aku semangat semesta
telah kau kenalkan aku pada kekosongan ruang waktu
telah kau kenalkan aku kehangatan yang menenangkan
telah kau kenalkan aku pada kebekuan menusuk kalbu

terima kasih kekasihku...
telah menghidupkanku...
dan membunuhku...

kini aku mati...
entah dengan tenang...
entah dalam gelisah...

Selasa, September 14, 2004

Hening

hening...
dalam ketukan jari jari malam
tengadah beringas mencoba membelah helai helai langit
menatap dingin derau angin yang mengiris lubuk hati

sejenak
perlahan tanpa pesanku pekikkan serapah dalam bisu
seiring tarikan nafas yang menderu
mencoba melawan putaran badai gurun

Dia hanya menyeringai

kuputar pandangan kesekelilingku
sunyi...
sekelumit mata alam melirikku sedih
menghela nafas panjang merekapun terdiam
tak ada batas yang terlihat

telingaku buta mencium kobarannya
dan akupun terpejam
mecoba meredam api diri
menyusun engahan udara dalam tubuhku

kubuka mataku
dengan hati
kutajamkan telingaku
dengan kalbu
menanti sabda alam
menunggu kelebat sukma semesta
yang kan menuntun langkah matiku

masih
masih terasa sepi
seketika pandanganku bias
kepalaku penuh dengan ceracauan usang
jari jariku mengepal

seakan tak percaya

dalam gemetar kembali tengadah
memandang bengis pintu langit
menembus sumsum cakrawala
kutumpahkan serapah dalam amarah

seraya bulir bulir tangis tak sadar mengalir

belulangku melunglai
tamparan pasirpun tak lagi terasa dalam jasad
tanpa daya akupun terdiam

mencoba mendengar sunyi

dalam hening...
dan akupun pasrah
mencoba menyatu dengan alam
mengenal butir butir pasir yang menyapaku
merasakan belaian angin yang lembut menciumku
menikmati hangat rembulan yang seketika datang
menuai harap yang mencoba tersenyum
cairkan samudra beku dalam gumpalan hati

dan akupun pasrah
dalam hening.....

Senin, September 13, 2004

Aku Tak Butuh Cinta

Aku tak butuh cinta!
cinta hanya menghabiskan waktuku
melenakanku dalam melodrama yang memabukkan
menyedot ruang pikiranku
untuk hal-hal yang kian menyakitkan
menghabiskan manfaatku
hingga tak ada lagi waktu untuk hal lain
menghisap darah segarku
membusukkan tubuh matiku dalam dunia yang semu kusam
membekukan setiap neuron neuron dalam benakku
hingga aku tak mampu lagi berfikir
membuatku tak mampu lagi berkata jujur
melemahkan hatiku hingga tak mampu lagi
membunuh egoku sampai titik tak terbatas

aku tak butuh cinta...
kau hanya membunuhku...

Minggu, September 12, 2004

Wanita Adalah...

wanita...
wanita adalah singa

makhluk paling ganas yang pernah kutemukan
berlindung dalam kelemahlembutannya
bertopeng ketidakberdayaan
tapi mampu menghisap waktu
membuat para lelaki takluk bertekuk lutut dalam ketamakannya
yang hanya datang ketika membutuhkan
dan mencampakkan ketika tetes tetes darahku mengering

wanita adalah serigala
mahluk paling licik yang pernah ku ketahui
yang menuntut segala macam persamaan, emansipasi
menggerogoti lahan sejati lelaki
namun tak mau menjalani tanggungjawab sejati lelaki
selalu ingin didatangi, disayangi, diperhatikan
menuntut lelaki mengungkapkan perasaannya
namun ia sendiri tak pernah mau mengungkap isi hati

wanita adalah lintah
makhluk kuat yang berpura-pura dalan kelemahan
makhluk paling sadis yang pernah mengisapku
yang menyedot seluruh energiku
untuk ketamakkannya akan perhatian, materi dan rasa aman
memaksaku meneteskan keringat
sampai belulangku tak mampu lagi bergerak
sampai mataku menjadi kasat

Wanita adalah ular
mahluk paling berbisa yang pernah aku tahu
yang dengan pintarnya telah menang dalam stigma yang ia ciptakan
menaruh lelaki sebagai mahluk yang hanya penuh nafsu
yang memanfaatkan tubuh lemahmu yang tak berdaya
menaruh lelaki sebagai zat yang zalim
dengan derai tangismu yang memilukan
padahal kau yang mencipta
melalui lenggokan yang memabukkan
melalui potongan kain yang sengaja kau sobek pendek
melalui potongan daging yang kau pamerkan
melalui lirikan mata yang mematikan
melalui senyum manis yang menghanyutkan


wanita adalah ganja
makhluk paling melenakan yang pernah ada
seakan membawaku dalam nirwana
membuatku seakan tak mampu hidup tanpa dirinya
tapi yang ada hanya neraka
yang membekukan serabut serabut otakku
yang hanya akan membuatku semakin bodoh
tak mampu berfikir
tak mampu merasa
menjadi bongkahan mayat mayat hidup
tanpa jiwa

wanita adalah iblis
makhluk paling egois yang pernah aku temui
yang dengan pintar memintaku mengabdi dalam pelukannya
yang selalu merayuku untuk menTuhankannya
yang selalu menggodaku untuk berada dipuncak alam pikirku
yang selalu ingin teratas dalam hatiku
yang tak pernah mau diduakan
dari jutaan semestaNya yang juga butuh perhatianku
dalam jumlah tak terbatas ciptaNya yang butuh kasih sayangku

bahkan aku tak mampu membencimu...

hanya satu yang aku yakin tentang engkau wahai wanita
bahwa engkau pasti akan menguntai serapah
mutlak tak menerima setiap goresan kata yang ku rangkai
namun tak pernah mau mengungkap makna terdalam coretan ini
ataukah tawa kemenangan yang akan kau sampaikan?

wahai wanita...
baca ini
dengan nurani...

Ajari Aku...

bagitu mudah orang berkata cinta
tidak untukku
kata magic maha dahsyat
yang dipuja
yang dihina

rasa yang mampu mengubah tawa menjadi nestapa
rasa yang mampu mengubah duka menjadi pelita

salahkah jika ku tak mudah mencinta

salahkah jika rasa itu membatu membongkah raga

aku tak punya hati
entah apa yang harus kubagi
entah itu kesalahan
melepas hati tanpa bekas
tanpa sisa

wahai pecinta
ajari aku
berhenti menyiksa diri
menipu nurani

wahai para pecinta
ajari aku
meraih hatiku kembali
mengejar mentari yang pernah hangatkan relung kalbu

wahai para pecinta
ajari aku
menyemai benih
membuka hati yang berkarat pekat

ajari aku
wahai pecinta...

01.15

kugerakkan kaki membelah gelap
tanpa makna
berjalan dalam duniaku
tanpa rasa

kuisi paru paru dengan sekumpulan racun
bercampur dengan pekatnya asap bajaj
sekumpulan metromini,
jejeran kopaja
ya, teman sejati yang selalu menemaniku dengan setia
menghatarku menuju kematian
apakah aku masih hidup?

ku tengakkan kepalaku keatas sana
ah.. betapa benci aku ketika bulan memancarkan cahayanya
betapa aku sangat ingin untuk lelah
lelah selelah-lelahnya
yang akan menghatarku menuju nirwana
yang tak pernah mampu menenangkan pikiranku
lalu terbangun dalam lelah
kembali dalam lelah

kukejar sebuah kopaja
yang dengan tenangnya berhenti ditengah pekikan klakson mobil dibelakangnya
memandangku penuh cinta
untuk menggaulinya

kuhentak jasadku dibangku panas
ah jakarta
kenapa panasmu tak mampu hangatkan hati ini?
sementara sudut mataku membeliak memandangi sepasang pencinta
disudut sana sang ibu berusaha tenangkan anaknya
sisi lain seorang bapak telelap dengan nyenyak
ah.. indahnya duniamu sobat...

pikirkupun terhentak tatkala putaran roda terhenti
dengan malas kugerakkan kakiku
menuju negeri entah berantah

sebatang rokok kembali dengan sabar
mendengarkan urutan kata tak bermakna dalam fikirku
mencoba menipuku membawa beban kelangit sana
sambil tertawa menumpuk sampah disela darah

persetan!
dia tetap teman setiaku
toh tak terlalu jelas bedanya kini
aku hanya menyeringai
menertawakan aku

teman...
andai saja wujudmu bisa kusentuh
andai saja persahabatanmu bisa kupeluk
andai saja kesetiaanmu mampu menenangkan resah hati
andai saja kehangatanmu mampu mencairkan gulana
andai saja apimu mampu membangkit gairah

tiba tiba saja mataku mengabur
hidungku tak mampu mencium
lidahku tak tau lagi tentang rasa
telingaku tak lagi yakin akan apa yang kudengar

arhghggggggg...
indera ini hanya menipuku dengan fana
masihkah aku hidup dalam kondisi seperti ini?

01.15.
tanganku mengalir dalam kumpulan tombol2
meneruskan setiap detak pikir
mencoba membuang sampah-sampah
yang tak habis seiring untaian kata

aku ingin tidur...
dengan tenang..
bisakah?

Jumat, September 10, 2004

Nyanyian sang Pendusta

Indahnya dunia jika tak punya rasa
hanya nafsu

tak perlu ada sedih
tak perlu ada duka
tak perlu ada resah
tak perlu ada gelisah

indahnya dunia jika tak punya hati
hanya logika

tak perlu ada sepi
tak perlu ada hampa
tak perlu ada sunyi
tak perlu ada pana

andai saja aku hanya punya nafsu dan logika
kan ku perkosa semesta
memburai kendali tanpa hasrat
membelah tengah malam dengan pedang terhunus
merdeka tanpa belenggu
menyayat cinta
merobek kasih

dan ya
aku telah berdusta...


Kamis, September 09, 2004

Kendali Hati

diantara semua kendali hati...
ketika indera dan hati tak lagi bercumbu memadu cinta
dan Tuhan bermain-main dengan kuasa-Nya
resah.. gelisah..
termakan oleh ketidaksingkronan sisi manusia dan bijaksana
selamat datang, kata seorang teman
aku adalah manusia...

ketika kepalsuan membawa tafsir yang menyesatkan
ketakutan akan kepalsuan lainnya
dan ketidakjujuran dilain masa menciptakan drama hati yang menyayat
terpuruk dalam lubang mati
yang kugali sendiri

tiada artinya mencari kebenaran dan ketidakbenaran
hanya ilusi bodoh yang terlukis dalam rasa
mungkin juga tidak pernah ada

hidup hanyalah pilihan
memilih akibat atas sebab
dalam garis-garis yang telah Dia tentukan

kehidupan...kematian...
adalah salah satu hak paling suci manusia dari sang khalik
Terang...gelap...
itu hanya ada dalam pikiran

Tidak takut tidak berani
Tidak ingin tidak menolak
Tidak bertanya dan tidak mempertanyakan

untaian kata penuh makna
dalam keutuhan penuh goncangan
dalam kedamaian penuh sesak
namun ketika hati tak penuh jujur memilih pilihan
hanya siksa ruang hampa yang mendalam yang tersisa

aku..
hanyalah manusia...
dalam raga...




Senin, September 06, 2004

Pertanda


Ini semua hanyalah tanda

Ya, tanda yang tetap belum mampu kumengerti

Ku coba memahami setiap arti maknanya
tidak ingin tidak menolak
Tidak takut tidak berani
Tidak bertanya dan tidak mempertanyakan

Inilah yang dikatakan para bijak tentang cinta
Cinta hendaknya diupayakan

Cinta hendaknya memasrahkan diri
Cinta hendaknya ikhlas sepenuh hati
Dan kita akan mendapatkannya

Ini semua hanyalah tanda
Ya, tanda yang tetap belum mampu kumengerti


Kidung Semesta

hening...
dalam ketukan jari jari malam
tengadah beringas
mencoba membelah helai helai langit
menatap dingin derau angin yang mengiris lubuk hati

sejenak
perlahan tanpa pesan
ku pekikkan serapah dalam bisu
seiring tarikan nafas yang menderu
mencoba melawan putaran badai gurun

Dia hanya menyeringai

kuputar pandangan kesekelilingku
sunyi...
sekelumit mata alam melirikku sedih
menghela nafas panjang
merekapun terdiam

tak ada batas yang terlihat
telingaku buta mencium kobarannya
dan akupun terpejam
mencoba meredam api diri
menyusun engahan udara dalam tubuhku

kubuka mataku
dengan hatiku
tajamkan telingaku
dengan kalbu
menanti sabda alam
menunggu kelebat sukma semesta
yang kan menuntun langkah matiku

masih...
masih terasa sepi
seketika pandanganku bias
kepalaku penuh dengan ceracauan usang

jari jariku mengepal
seakan tak percaya
dalam gemetar kembali tengadah
memandang bengis pintu langit
menembus sumsum cakrawala

kutumpahkan serapah dalam amarah
seraya bulir bulir tangis tak sadar mengalir
hingga urat-urat darah tak lagi mampu mengalir
Dan belenggu angkuh tercerai berai

belulangku melunglai
tamparan pasirpun tak lagi terasa dalam jasad

tanpa daya
akupun terdiam
mencoba mendengar sunyi

dalam hening...
dan akupun pasrah
mencoba menyatu dengan alam
mengenal butir butir pasir yang menyapaku
merasakan belaian angin yang lembut menciumku
menikmati hangat rembulan yang seketika datang
menuai harap yang mencoba tersenyum
cairkan samudra beku dalam gumpalan hati

dan akupun pasrah
dalam hening.....



Sabtu, September 04, 2004

TAWA SANGKALA


ketika hasrat tlah berganti rasa
dan pintu pintu terbentang lebar
memilih untuk dipilih
derap langkah tungkai yang tergesa ragukan
kemana wahai engkau kawan?

ketika ingin sudah membuncah
terbaur ragu
terbagi ngilu
hendak mengapa engkau teman?

lalu tatkala suara suara menggema pekakkan hati
masihkan kau tak tau kawan?
ketika ingin tak lagi menggerak hati

ketika hasrat tak lagi mengayun kaki
ketika obsesi tak lagi membangkin emosi
hendak kemana kau mengelak ?

dan akhirnya tersisa lelah
serentak mengalirlah sang waktu
tertawa terburai terbahak
melihat setitik mayat beku
yang tengah mengeliat berat
dengan muka padam tanpa makna
mencoba menggores lantai dingin yang menggigit

mencoba menggesek batu batu salju
agar terpercik rasa hangat
agar tumbuh benih rindu
tuk kembali
hidup.....